Wisata Alam Cipanas Sekarwangi Terletak 19 Km arah utara kota Sumedang, di kaki gunung Tampomas, desa Sekar wangi, kabupaten Buah dua dan bisa ditembuh dengan semua jenis transportasi baik pribadi maupun umum. Di tempat ini terdapat sumber mata air panas, dan fasilitas lain seperti penginapan, dll. Wisata Alam Cipanas Cilengsing Terletak tidak terlalu jauh dari Cipanas Sekarwangi. Terletak di desa Cilangkap, kecamatan Buah dua, sekitar 15 Km dari pusat kota Sumedang. Sumber mata air panasnya mengandung belerag yang cukup tinggi, sehingga sering digunakan sebagai media pengobatan. Wisata Alam Cadas Pangeran Sekitar 8 Km ke arah barat kota sumedang (jalan raya ke arah Bandung) terdapat lembah curam. Tempat yang bersejarah ini dinamakan Cadas Pangeran untuk mengenang jasa dan keberanian Pangeran Kornel, seorang raja yang memerintah pada saat itu. Beliau menentang pemerintahan kolonial Belanda yang saat itu dibawah kepemimpinan Jendral HW. Daendles. Perhatikanlah cara mereka bersalaman dalam suasana siaga.. Lapangan Golf Giri Gahana Sebuah lapangan golf bertaraf internasional yang berlokasi di desa Cibeusi, kecamatan Jatinangor, dan hanya berjarak sekitar 30 menit perjalanan dari Bandung. Kawasan Wisata Kampung Toga kampung toga adalah singkatan dari kampung tanaman obat-obatan. Terletak 3 Km dari alun-alun Sumedang, merupakan objek wisata keluarga dengan lingkungan pegunungan yang indah dan nyaman, Cocok untuk pertemuan dan pesta. Bentangan alam dengan ketinggian yang berbeda menjadikan kawasan ini memiliki wisata yang beraneka ragam. diantaranya di tempat ini tersedia fasilitas paraglaiding, gantole, Arung jeram, hiking, jogging, off-road, game war (paint ball / airsoft gun), horse riding, dll.
Selasa, 21 Desember 2010
Wisata Sumedang
Kampung Toga Sumedang, Menikmati Makan di Riung Nan Rindang
Tapi, bukan cuma itu, ke Sumedang belum lengkap kalau tak singgah ke Kampung Toga leisure & resort yang terletak di Jl.Cut Nyak Dhien, Sumedang. Tak jauh dari makan Cut Nyak Dhien.
Kampung Toga memang sengaja dirancang sebagai sarana hiburan yang membuat kita bisa berlama-lama di sana. Tak hanya menikmati santapannya yang lezat khas Sunda, tapi pengunjung pun dimanjakan dengan adanya kolam renang, kafe dengan panggung musik, dan vila. Sungguh suasana yang nyaman dan aman.
Duduk di bawah riung, beralaskan tikar sangat berselera menikmati hidangan yang tersedia. Timbel komplit seharga Rp.22.500, liwet komplit seharga Rp.50.000 khusus untuk 6 orang ditambah dengan sup gurame, ikan bakar, lalapan, dan sambal terasa nikmat. Belum lagi ditambah jus tape berwarna merah muda seharga Rp.7000, jus alpokat senilai Rp., dan sebagainya.
Kampung Toga sengaja diciptakan untuk menikmati istirahat panjang terbukti dengan berbagai fasilitas yang tersedia di sini. Berminat? Agaknya rugi di ke Sumedang tak singgah di Kampung Toga.
Senin, 20 Desember 2010
Sejarah Tahu Sumedang
Bermula dari kreativitas yang dimiliki oleh istri Ongkino, yang memang semenjak awal sebagai orang yang pertama kali memiliki ide untuk memproduksi Tou Fu (dari bahasa Tionghoa, Hokkian "tau hu", yang berarti sama) yang lambat laun menjadi berubah nama menjadi "Tahu".
Tahun demi tahun, Ongkino beserta istri tercinta terus menggeluti usaha mereka hingga sekitar tahun 1917 anak tunggal mereka Ong Bung Keng menyusul kedua orang tuanya ke tanah Sumedang. Bung Keng kemudian melanjutkan usaha kedua orang tuanya yang sampai keduanya memilih kembali ke tanah kelahiran mereka di Hokkian, Republik Rakyat Cina.
Melalui alih generasi Ong Bung Keng, anak tunggal Ongkino, terus melanjutkan usaha yang diwariskan dari kedua orang tuanya hingga akhir hayatnya di usia 92 tahun. Di balik kemasyhuran tahu Sumedang ada pula kisah yang berbau mistik, seperti apa yang diceritakan cucu dari Ongkino, Suryadi. Sekitar tahun 1928, konon suatu hari tempat usaha sang kakek buyutnya, Ong Bung Keng, didatangi oleh Bupati Sumedang, Pangeran Soeria Atmadja yang kebetulan tengah melintas dengan menggunakan dokar dalam perjalanan menuju Situraja.
Kebetulan, sang Pangeran melihat seorang kakek sedang menggoreng sesuatu. Pangeran Soeria Atmadja langsung turun begitu melihat bentuk makanan yang amat unik serta baunya yang harum. Sang bupati, Pangeran Soeria Atmadja kemudian bertanya kepada sang kakek, "Maneh keur ngagoreng naon? (Kamu sedang menggoreng apa?)". Sang kakek berusaha menjawab sebisanya dan menjelaskan bahwa makanan yang ia goreng berasal dari Tou Fu China. Karena penasaran, sang bupati langsung mencoba satu. Setelah mencicipi sesaat, bupati secara spontan berkata "Enak benar masakan ini! Coba kalau kamu jual, pasti laris!", dengan wajah puas.
Tak lama setelah kejadian ini, Tahu Sumedang digemari oleh penduduk Sumedang dan kemudian sampai ke seluruh Indonesia
Tahun demi tahun, Ongkino beserta istri tercinta terus menggeluti usaha mereka hingga sekitar tahun 1917 anak tunggal mereka Ong Bung Keng menyusul kedua orang tuanya ke tanah Sumedang. Bung Keng kemudian melanjutkan usaha kedua orang tuanya yang sampai keduanya memilih kembali ke tanah kelahiran mereka di Hokkian, Republik Rakyat Cina.
Melalui alih generasi Ong Bung Keng, anak tunggal Ongkino, terus melanjutkan usaha yang diwariskan dari kedua orang tuanya hingga akhir hayatnya di usia 92 tahun. Di balik kemasyhuran tahu Sumedang ada pula kisah yang berbau mistik, seperti apa yang diceritakan cucu dari Ongkino, Suryadi. Sekitar tahun 1928, konon suatu hari tempat usaha sang kakek buyutnya, Ong Bung Keng, didatangi oleh Bupati Sumedang, Pangeran Soeria Atmadja yang kebetulan tengah melintas dengan menggunakan dokar dalam perjalanan menuju Situraja.
Kebetulan, sang Pangeran melihat seorang kakek sedang menggoreng sesuatu. Pangeran Soeria Atmadja langsung turun begitu melihat bentuk makanan yang amat unik serta baunya yang harum. Sang bupati, Pangeran Soeria Atmadja kemudian bertanya kepada sang kakek, "Maneh keur ngagoreng naon? (Kamu sedang menggoreng apa?)". Sang kakek berusaha menjawab sebisanya dan menjelaskan bahwa makanan yang ia goreng berasal dari Tou Fu China. Karena penasaran, sang bupati langsung mencoba satu. Setelah mencicipi sesaat, bupati secara spontan berkata "Enak benar masakan ini! Coba kalau kamu jual, pasti laris!", dengan wajah puas.
Tak lama setelah kejadian ini, Tahu Sumedang digemari oleh penduduk Sumedang dan kemudian sampai ke seluruh Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)